Kamis, 04 Agustus 2011

ORANG YANG DIBENCI IBLIS

Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis: "Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?"

Iblis segera menjawab: "Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah makhkluk Allah yang paling aku benci."

"Siapa selanjutnya?"

"Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT."

"lalu siapa lagi?"

"Orang Aliim dan wara' (Loyal)"

"Lalu siapa lagi?"

"Orang yang selalu bersuci."

"Siapa lagi?"

"Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepda orang lain."

"Apa tanda kesabarannya?"

"Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang -orang yang sabar."

" Selanjutnya apa?"

"Orang kaya yang bersyukur."

"Apa tanda kesyukurannya?"

"Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan mengeluarkannya juga dari tempatnya."

"Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?"

"Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam."

"Umar bin Khattab?"

"Demi Allah setiap berjumpa dengannya aku pasti kabur."

"Usman bin Affan?"

"Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya."

"Ali bin Abi Thalib?"

"Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. tetapi ia tak akan mau melakukan itu. " (Ali bin Abi Thalib selau berdzikir terhadap Allah SWT)




AAMALAN YANG DAPAT MENYAKITI IBLIS

"Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak shalat?"

"aku merasa panas dingin dan gemetar."

"Kenapa?"

"Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 derajat."

"Jika seorang umatku berpuasa?"

"Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka."

"Jika ia berhaji?"

"Aku seperti orang gila."

"Jika ia membaca al-Quran?"

"Aku merasa meleleh laksana timah diatas api."

"Jika ia bersedekah?"

"Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji."

"Mengapa bisa begitu?"

"Sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya. yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya."

"Apa yang dapat mematahkan pinggangmu?"

"Suara kuda perang di jalan Allah."

"Apa yang dapat melelehkan tubuhmu?"

"Taubat orang yang bertaubat."

"Apa yang dapat membakar hatimu?"

"Istighfar di waktu siang dan malam."

"Apa yang dapat mencoreng wajahmu?"

"Sedekah yang diam - diam."

"Apa yang dapat menusuk matamu?"

"Shalat fajar."

"Apa yang dapat memukul kepalamu?"

"Shalat berjamaah."

"Apa yang paling mengganggumu?"

"Majelis para ulama."

"Bagaimana cara makanmu?"

"Dengan tangan kiri dan jariku."

"Dimanakah kau menaungi anak - anakmu di musim panas?"

"Di bawah kuku manusia."


MANUSIA YANG MENJADI TEMAN IBLIS


Nabi lalu bertanya : "Siapa temanmu wahai Iblis?"

"Pemakan riba."

"Siapa sahabatmu?"

"Pezina."

"Siapa teman tidurmu?"

"Pemabuk."

"Siapa tamumu?"

"Pencuri."

"Siapa utusanmu?"

"Tukang sihir."

"Apa yang membuatmu gembira?"

"Bersumpah dengan cerai."

"Siapa kekasihmu?"

"Orang yang meninggalkan shalat jumaat"

"Siapa manusia yang paling membahagiakanmu?"

"Orang yang meninggalkan shalatnya dengan sengaja."

TERPURUK.....

Bismillah… Ada masa dimana seseorang terjatuh dalam keterpurukan. Hati seperti membusuk, rusak, kosong dan tak berpenghuni. Tahukah kau apa yang sebenarnya terjadi? Hatinya sedang tak tertulis nama-Nya. Allah dengan segala keindahan-Nya adalah penerang bagi jiwa-jiwa yang resah, penghangat bagi hati yang terasa beku dan selalu saja memberikan setumpuk harap bagi mereka yang keyakinannya menipis. Hati, dalam sebuah pesan Rasulullah SAW, adalah Raja bagi tubuh kita. Ketika ia baik, maka baiklah yang lainnya. Untuk itu, sederhana saja kita menilai sebuah karakter. Ketika hatinya baik, maka perilakunya akan baik, akhlaqnya akan mulia, lisannya adalah kemuliaan dan langkahnya selalu menuju perbaikan. Begitulah hati memimpin. Bagi mereka yang memiliki hati sejernih embun pagi, akan menghasilkan karya akhirat yang akan mengalirkan energi kehidupan bagi peradaban.

Keterpurukan hati selalu beriringan dengan kedekatan kita kepada Allah. Ketika amal-amalan pailit di tiap harinya, yang semula 1 juz per hari, kemudian berkurang menjadi 2 lembar per hari, maka di sanalah tanda-tanda keterpurukan hatimu akan dimulai. Amalan dan bersihnya hati adalah dua hal yang tak terpisahkan. Engkau memiliki hati sebagai tempat niat untuk memulai segala aktivitasmu, maka amal adalah bentuk dari semua kerja-kerjamu. Baiknya hatimu, baik pula amalmu.

Keistiqamahan adalah jembatan untuk menghubungkannya. Hatimu selalu berusaha untuk berorientasi kepada-Nya lewat amal-amalmu. Jika istiqamah itu menjadi pakaian keseharianmu, maka amal akan selalu beriringan bersama jernihnya hati. Orang yang Istiqamah menjaga amalnya, akan menjaga kualitas ruhnya (jiwanya). Kualitas jiwa yang terjaga selalu akan memenangkan kebeningan akhlaq dibanding nafsu. Merekalah orang-orang beruntung yang telah dianugerahi kelapangan dalam jiwa, kebersihan dalam hati dan kelurusan dalam akhlaq. Semua dimensi ini adalah jalan sederhana untuk menuju kebahagiaan. Engkau akan selalu meletakkan hati yang lurus kepada-Nya, kemudian melanjutkan amalmu penuh keistiqamahan hingga jiwamu akan kau menangkan dan nafsumu akan tersingkir dari setiap aktivitasmu.

Membangkitkan hati agar kembali kepada-Nya bukanlah perkara mudah. Menyembuhkan luka tentu membutuhkan proses juga usaha. Maka Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk jangan pernah berputus asa dari rahmat-Nya. Seperti sebuah lirik nasyid sederhana,

“Tuhan.. Dosaku menggunung tinggi.. namun Rahmat-Mu melangit luas…”

Begitulah… Rahmat Allah selalu saja hadir bagi mereka yang lengah terhadap-Nya. Ampunan-Nya selalu saja tak pernah absen ditiap harinya, selagi kau meminta-Nya, selagi kau mengharapnya.

Setidaknya kita semua pernah belajar bagaimana bangkit dari keterpurukan. Selagi engkau merasa sulit, jangan sampai hatimu tak terpaut kepada-Nya. Yang kau dapatkan hanyalah kekosongan jika Allah tak bersamamu. Maka rengkuhlah cinta dalam dekapan-Nya, sambutlah damai yang akan selalu menjadi temanmu.. Selagi engkau merasa, bahwa Allah adalah sebaik-baik penolongmu.

** Semangat dari Allah di Titik Jenuh..**

Melakukan sesuatu secara berulang-ulang dan rutin dapat membuat kita jenuh dan bosan. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar. Berpikir sangat keras terus menerus juga bisa membuat jenuh. Bahkan mungkin akan ada saat-saat "blank" dimana kita merasa bingung, jenuh, bosan dengan apa yang kita kerjakan...tetapi sayangnya hal itu "tetap" harus dikerjakan.



Wajar kok... itu fitrah manusia...Dan tabiat "si jenuh"... biasanya dia muncul di pertengahan menjelang akhir dari sesuatu aktivitas.



Segala Puji hanya bagi Allah yang sangat menyayangi hambaNya, yang maha mengetahui keadaan dan isi hati hambaNya. Dan termasuk untuk rasa jenuh kita...



Setelah bekerja seharian, ibadah sepanjang hari. Kita merasa lelah dan letih. Tidak terkecuali semangat ibadah pun ikut menurun. Allah menyemangati kita dengan janji dan jaminan pahala serta terkabulnya doa di sholat tahajud di sepertiga malam terakhir. Beribadah di saat kebanyakan orang tertidur, bisa lebih mendekatkan hati kepada Allah, suatu kenikmatan yang tak ingin ditukar dengan apapun...



Di dalam ibadah mingguan, kita juga merasakan kadang giat dan kadang futur. Lagi-lagi Allah menyemangati kita dengan adanya shaum sunnah di hari senin dan kamis, serta shaum ayyamul bidh tanggal 13,14 dan 15 di setiap bulannya.



Abu Hurairah r.a. berkata : Rasulullah saw bersabda : Amal perbuatan itu diperiksa setiap hari Senin dan Kamis, maka aku suka ketika diperiksa amalku sedang aku dalam keadaan berpuasa. (HR. AtTirmidzi)



Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash r.a. berkata : Rasulullah saw bersabda : Puasa tiga hari tiap bulan, bagaikan puasa selama hidup (sepanjang masa). (HR. Bukhari, Muslim).



Dalam ibadah mingguan, Allah mempertemukan kita dengan saudara-saudara kita seiman dengan sholat Jum'at yang merupakan majelis yang penuh berkah. Di dalamnya, kita kembali diingatkan tentang ketakwaan dan ajakan untuk tetap istiqomah di jalan Allah. Bertemu dan berkumpul bersama orang-orang sholeh akan kembali menyalakan semangat yang mulai redup minggu itu. Bukan hanya makanan yang bisa me-refill semangat, namun inilah charger yang ampuh bagi semangat beribadah.



Di antara ibadah bulanan, ada Bulan Ramadhan. Bulan yang di dalamnya Allah menjanjikan pahala yang belipat ganda dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain. Ketika doa dan zikir dilantunkan dari bumi menuju langit, ketika Allah membukakan pintu-pintu rahmatnya. Ketika seluruh penduduk bumi dan langit berbahagia memuji kebesaranNya. Semuanya dijamin oleh Allah di bulan ini. Mau tidak mau, semangat kita dikayuh lebih keras untuk menyambut tamu mulia ini dan mengisinya dengan amal ibadah.

Di dalam Ramadhan pun, masih saja Allah menyemangati kita dengan menjanjikan rahmat, pengampunan dosa dan pembebasan dari api neraka. Allah sangat mempermudah kita untuk beribadah.



Namun sungguh, diakui atau tidak, tetap saja lelah dan jenuh bisa muncul meski di dalam bulan penuh kemuliaan itu..apalagi di saat-saat akhir Ramadhan. Subhanallah, Allah menyemangati kita dengan adanya malam Lailatul Qodar di sepuluh hari terakhir. Hikmah dari tidak diketahuinya dengan pasti datangnya malam yang lebih mulia dari seribu bulan itu, kita menjadi semangat menghidupkan ibadah di setiap malam.



Di bulan Syawal, kadang kita terlena dengan kebahagiaan lepasnya kewajiban puasa. Seolah terlepas dari tali kekang yang mengikat kuat. Padahal seharusnya kita sedih kehilangan Ramadhan yang telah berlalu. Dan Allah yang maha tahu lemahnya semangat kita memberikan lagi kesempatan untuk memperbaiki turunnya semangat ibadah dengan adanya puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal. Dari Abu Ayyub radhiyallahu anhu: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Siapa yang berpuasa Ramadhan dan melanjutkannya dengan 6 hari pada Syawal, maka itulah puasa seumur hidup'." [Riwayat Muslim 1984, Ahmad 5/417, Abu Dawud 2433, At-Tirmidzi 1164]



Menyadari bahwa penyemangat kita hanyalah Allah, tak pantas kita menyombongkan diri dengan amal dan kebaikan serta keberhasilan sampai hari ini. Tak pantas pula kita ujub dengan ketakwaan kita. karena... semua amal kita adalah rezeki dari Allah..Dia yang menjadikan kita mampu dan bersemangat mengerjakannya.



Wallahu'alam

KIDUNG CINTA SEORANG HAMBA .....

Kekasih…

Lazuardi nan biru semburat di kaki langit padang Arafah panas berdebu.

Jutaan bibir hamba-Mu bergetar ungkapkan untaian ratap rindu,

rindu rasa, rindu jiwa, hanya pada-Mu jua tempat mengadu.

Sungguh begitu sendu tatkala dada bergemuruh tersedu.



Terbayang kelak manusia berkumpul di Padang Mahsyar,

Jasad-jasad yang berlimang dosa panjatkan munajat gemetar.

Menjadi ibarat kelak semua menghadap-Mu dibalut kain dua lembar,

dan meninggalkan timbunan emas permata beserta uang bemilyar-milyar.





Kekasih…

Di Padang ini, hampir semua hamba-Mu berurai airmata.

Curahkan segenap permohonan ampun atas dalamnya dosa.

Bermohon dengan menyebut asma agung-Mu Yang Maha Kuasa,

dan meminta kemurahan-Mu agar dilepaskan dari sakit dan pedihnya siksa.



Sedang di cakrawala nan biru Jutaan malaikat-Mu menjadi saksi,

Kerinduan jutaan hamba-Mu yang datang dari berbagai negeri.

Ada yang berkendaraan bagus dan tidak sedikit yang jalan kaki.

Sungguh wujud sebuah kebaktian yang tinggi pada Ilahi Robbi.



Sungguh indah, tatkala pangkat tinggi dan kemuliaan duniawi ditanggalkan.

Dua lembar pakaian ihram tak berjahit bagai pasangan kain kafan.

Begitulah kelak di Mahkamah-Mu wajah kami kan dihadapkan.

Menekur bagaikan lunglainya tubuh seorang pesakitan.



Kekasih,

hamba tersedan.



Betapa hamba sangat takut,

Layar waktu seakan membuat semua masa lalu tertaut.

Bagaikan tayangan lengkap peristiwa yang berkala dan runtut.

Perjalanan diri sebagai hamba yang baligh sampai maut datang menjemput.





Kekasih…

Sungguh Arafah membekas dalam bagai pancaran pemata,

terukir demikian kuat didalam relung jiwa,

Dan semua menjadi kekuatan indah,

sampai kelak menutupmata



Al Faqiir

Jumat, 27 Mei 2011

Pengakuan Lelaki Terhadap Wanita



Kami sulit menahan pandangan mata kami
ketika melihat kalian,
apalagi jika kalian diamanahkan Allah
kecantikan dan postur yand ideal,
kami semakin susah untuk menolak agar tidak melihat kalian,
kerana itu lebarkanlah serta longgarkanlah pakaian kalian
dan tutupilah rambut hingga ke dada kalian dengan kerudung yang membentang.


Kami sulit menahan pendengaran kami
ketika berbicara dengan kalian,
apalagi jika kalian diamanahkan oleh Allah
suara yang merdu dengan irama yang mendayu
kerana itu tegaskanlah suara kalian
tatkala berbicara di berhadapan dengan kami
dan berbicaralah seperlunya sahaja.


Kami juga sulit menahan
bayangan-bayangan hati kalian,
ketika kalian dapat menjadi
tempat untuk dicurahkan segala isi hati kami,
waktu luang kami kadangkala akan sering terisi
oleh bayangan-bayangan kalian,
kerana itu janganlah kalian membiarkan kami
menjadi curahan hati bagi kalia

Kami tahu kami insan lemah
bila harus berhadapan dengan kalian,
kekerasan hati kami dengan mudah bisa luluh
hanya dengan senyum kalian,
hati kami akan bergetar
ketika mendengar dan melihat kalian menangis.

Sungguh ALLAH telah memberikan amanah terindah kepada kalian,
maka jagalah amanah itu
jangan sampai ALLAH murka dan memberikan keputusan-Nya.

Maha Besar dan Maha Suci Allah yang tahu
akan kelemahan hati kami ini,
hanya dengan ikatan yang suci dan yang diredhai-NYA,
kalian akan menjadi halal bagi kami.







"LAlu apa yang telah aku lakukan selama ini..YA Rabb, ampunilah daku.
Untuk setiap pandangan yang tak terjaga,
untuk iman yang tak dipelihara,
lisan yang merayu dan hati yang tak terhijab,

Ya Rabb, Engkaulah mengawasi kami setiap detik,
kerana kasih sayangMu ya Allah kepada kami,
Engkau perintahkanlah malaikan silih berganti
menemani kami siang dan malam
agar iman kami dapat dijaga...



www.iLuvislam.com

** Apa Hebatnya Shalat Di Awal Waktu..? **



Setiap peralihan waktu solat sebenarnya menunjukkan perubahan tenaga alam, hal ini dapat diukur dan diserap melalui perubahan warna alam.

Aku rasa fenomena perubahan warna alam adalah sesuatu yang tidak asing bagi mereka yang terlibat dalam bidang fotografi.

Waktu Subuh

Sebagai contoh, pada waktu Subuh alam berada dalam spektrum warna biru muda yang bersamaan dengan frekuensi tiroid yang mempengaruhi sistem metabolisma tubuh.

Jadi warna biru muda atau waktu Subuh mempunyai rahsia berkaitan dengan penawar/rezeki dan komunikasi.

Mereka yang kerap tertinggal waktu Subuhnya ataupun terlewat secara berulang-ulang kali, lama kelamaan akan menghadapi masalah komunikasi dan rezeki.

Ini karena tenaga alam biru muda tidak dapat diserap oleh tiroid yang mesti berlaku dalam keadaan roh dan jasad berpadu (keserentakan ruang dan masa) - dengan kata lain terjaga dari tidur.

Di sini juga dapat kita ungkap akan rahasia diperintahkan sholat di awal waktu.
Bermulanya saja azan Subuh, tenaga alam pada waktu itu berada pada tahap optimum.
Tenaga inilah yang akan diserap oleh tubuh melalui konsep resonan pada waktu rukuk dan sujud.
Jadi mereka yang terlewat shalat Subuhnya sebenarnya sudah mendapat tenaga yang tidak optimum lagi.

Waktu Zuhur
Warna alam seterusnya berubah ke warna hijau (Isyraq & Dhuha) dan kemudian warna kuning menandakan masuknya waktu Zuhur.

Spektrum warna pada waktu ini bersamaan dengan frekuensi perut dan hati yang berkaitan dengan sistem pencernaan.

Warna kuning ini mempunyai rahasia yang berkaitan dengan keceriaan.

Jadi mereka yang selalu ketinggalan atau terlewat Zuhurnya berulang-ulang kali dalam hidupnya akan menghadapi masalah di perut dan hilang sifat cerianya. Coba perhatikan orang yang tengah sakit perut , adakah nampak keceriaan di wajahnya?

Waktu Asar
Kemudian warna alam akan berubah kepada warna orange, yaitu masuknya waktu Asar di mana spektrum warna pada waktu ini bersamaan dengan frekuensi prostat, uterus, ovari dan testis yang merangkumi sistem reproduktif.

Rahasia warna orange ialah kreativitas.
Orang yang kerap tertinggal Asar akan hilang daya kreativitasnya dan lebih malang lagi kalau di waktu Asar ni jasad dan roh seseorang ini terpisah (tidur).

Dan jangan lupa, tenaga pada waktu Asar ni amat diperlukan oleh organ-organ reproduktif kita.

Waktu Magrib
Menjelang waktu Maghrib, alam berubah ke warna merah dan di waktu ini kita kerap dinasihatkan oleh orang-orang tua agar tidak berada di luar rumah.

Ini karena spektrum warna pada waktu ini menghampiri frekuensi jin dan iblis (infra-red) dan ini bermakna jin dan iblis pada waktu ini amat bertenaga karena mereka resonan dengan alam.

Mereka yang sedang dalam perjalanan juga seelok-eloknya berhenti dahulu pada waktu ini (sholat Maghrib dulu lah) karena banyak interferens (gangguan) berlaku pada waktu ini yang boleh mengelirukan mata kita.

Rahasia waktu Maghrib atau warna merah ialah keyakinan, pada frekuensi otot, saraf dan tulang.

Waktu Isya'

Apabila masuk waktu Isya', alam berubah ke warna Indigo dan seterusnya memasuki fasa Kegelapan.
Waktu Isya' ini menyimpan rahasia ketenteraman dan kedamaian di mana frekuensinya bersamaan dengan sistem kawalan otak.

Mereka yang kerap ketinggalan shalat Isya'nya akan selalu berada dalam kegelisahan.

Alam sekarang berada dalam Kegelapan dan sebetulnya, inilah waktu tidur dalam Islam. Tidur pada waktu ini disebut tidur delta di mana keseluruhan sistem tubuh berada dalam masa istirahat.

Qiyamullail
Selepas tengah malam, alam mulai bersinar kembali dengan warna putih, merah jambu dan seterusnya ungu di mana hal ini bersamaan dengan frekuensi kelenjar pineal, pituitari, talamus dan hipotalamus.

Tubuh sepatutnya bangkit kembali pada waktu ini dan dalam Islam waktu ini dipanggil Qiyamullail.

Begitulah secara ringkas pertalian waktu solat dengan warna alam.
Manusia kini semestinyanya menyadari akan pentingnya tenaga alam ini dan inilah faktor adanya bermacam-macam kaedah meditasi yang dicipta seperti taichi, qi-gong dan sebagainya. Semuanya dicipta untuk menyerap tenaga-tenaga alam ke sistem tubuh.

Kita sebagai umat Islam sepatutnya bersyukur karena telah di’karuniakan’ syariat sholat oleh Allah s.w.t tanpa perlu kita memikirkan bagaimana hendak menyerap tenaga alam ini.

Hakikat ini seharusnya menginsafkan kita bahwa Allah s.w.t mewajibkan solat kepada hamba-Nya atas sifat pengasih dan penyayang-Nya sebagai pencipta sebab Dia tahu hamba-Nya ini amat sangat memerlukan-Nya.

Adalah amat malang sekali bagi golongan manusia yang begitu tak pedulinya dalam menjaga sholatnya tapi amat berdisiplin dalam menghadiri kelas taichinya.

Wallahualam.

Kaya Untuk Miskin

“Jika kau ingin menemuiku, carilah aku di tengah-tengah orang miskin,” kata Nabi Muhammad SAW. Dan beliau wafat dengan meninggalkan utang gadai baju besi kepada seorang yahudi.

Wasiat Rasulullah itulah yang membuat Shalahuddin Al Ayyubi memilih miskin hingga akhir hayat. Pada 1193, Sang Penakluk Aqsha (1192), meninggal dunia.
Ketika peti harta warisan Shalahuddin dibuka, isinya nyaris kosong. Bahkan sekadar untuk biaya pemakamannya pun tak cukup. Gaji, bagian ghanimah maupun fa’i yang diterima Jendral Shalahuddin semasa hidupnya, habis dibagikan kepada kaum dhuafa.
Demikianlah, Sholahuddin Al Ayyubi adalah Orang Kaya yang Kaya. Seperti dikatakan

Rasulullah: Bukanlah orang kaya itu yang banyak harta-benda, tapi sejatinya orang kaya adalah yang kaya jiwanya (HR Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
Orang kaya macam Shalahuddin Al Ayyubi “tidak punya waktu” untuk menikmati kekayaan harta-bendanya sendiri. Dia kaya untuk miskin. Kaum dhuafa lah yang menikmati kekayaan beliau.

Sesuai kata Nabi Muhammad SAW, sebaik-baik kekayaan adalah di tangan Muslim yang dermawan. Yakni, kata Abu Ishaq as Sabi’i dalam Kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin, yang memandang keluasan harta benda sebagai penolong agama.

Orang berjiwa kaya seperti Shalahuddin Al Ayyubi, bahkan bisa disebut sebagai “egois” bila tidak berusaha mencari harta sebanyak-banyaknya.
Kok?

Seandainya kita mau memikirkan kepentingan keluarga lainnya, baik keluarga sedarah maupun keluarga seiman yang dhuafa dan membutuhkan bantuan finansial, maka kita tidak akan pernah merasa cukup meskipun penghasilan kita Rp 1 Milyar perbulan!

Penghasilan Rp 5 juta atau 10 juta perbulan, mungkin cukup untuk makan kita dan keluarga, pendidikan anak, cicilan rumah, mobil, zakat/infaq dan sedikit tabungan.
Cukup memang jika kita hanya memikirkan diri dan keluarga kita saja. Tapi kita harus berusaha mendapatkan lebih banyak lagi, karena terlalu banyak umat Islam yang harus dibantu secara finansial. Maka, sebanyak-banyaknya uang harus kita hasilkan, dan sebanyak-banyaknya orang harus menikmati manfaat dari yang kita hasilkan.

Tapi hati-hati, jangan sebaliknya malah menjadi Orang Kaya yang Miskin. Yang sudah diberi kelebihan materi, namun tidak pernah merasa cukup dan selalu merasa kurang. Bagaikan meminum air laut. Itulah yang menyebabkannya miskin.
Memang, setiap manusia berpotensi untuk kemaruk harta. “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan” (QS Al-Fajr: 20).

Rasulullah SAW pun telah memperingatkan: “Seandainya anak Adam memiliki dua lembah yang dipenuhi harta kekayaan, dia pasti menginginkan lembah yang ketiga” (HR Tirmidzi dari Ibnu Abbas).

Selanjutnya, kerakusan biasanya berjalin-kelindan dengan kebakhilan. “Dan sungguh dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta” (QS. Al-Adiyat: 8). Dia sewa sepasukan bodyguard untuk melindunginya dari sentuhan kaum dhuafa. Belum cukup setengah lusin satpam yang bertugas 2 shift siang-malam menjaga rumahnya, dia bangun pagar rumah senilai milyaran rupiah.

Kerakusan secara manusiawi bahkan mengikuti laju usianya. Seperti diingatkan Nabi, “Hati orang tua yang telah lanjut usia cenderung pada dua hal, yaitu umur panjang dan banyak harta” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah).

Orang yang kaya-rakus-bakhil, sejatinya dia orang miskin. Dia dengan segenap kekayaannya tidaklah menakutkan, tapi menyedihkan. Karena sejatinya dia tidak lebih mulia ketimbang binatang. Bahkan lebih nista lagi.

Firman Allah SWT: “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadikan pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat jalannya (dari binatang)” (QS. Al Furqan: 43-44).

Orang Kaya yang Miskin, tidak menyadari bahwa dia diciptakan lebih mulia dari setan. Dia justru takluk pada setan yang “… menakut-nakuti kalian dengan kemiskinan” (QS. Al- Baqarah: 268).

Naudzubillahi mindzalik!
Sumber: Dialog Jum’at Tabloid Republika