Anda gampang pelupa? Bisa jadi, kemampuan otak Anda untuk mengingat sudah mulai menurun. Banyak hal yang bisa jadi penyebab, selain faktor usia. Tapi, bisa kok ingatan ditingkatkan. Bagaimana caranya?
1. Relaksasi secara teratur
Salah satu cara yang paling efektif untuk meningkatkan ingatan adalah berusaha mengendorkan ketegangan seluruh otot tubuh sebelum mempelajari sesuatu yang baru. Menurut ahli, relaksasi otot dapat mengurangi kecemasan yang sering dirasakan seseorang ketika berusaha mempelajari hal baru.
2. Dengarkan musik klasik
Menurut Dr. Frances Ranscher dan Dr. Gordon Show, peneliti dari Universitas California, AS, orang yang sering mendengarkan musik klasik akan mengalami peningkatan kemampuan penalaran. Menurut penulis The Mozart Effect, Don Campbell, mendengarkan musik klasik juga akan membantu ingatan dan pembelajaran.
3. Menata pikiran
Membentuk urutan informasi (mengelompokkan informasi) akan membuat sesuatu lebih mudah diingat. Ini juga akan mempermudah otak untuk mengingat kembali apa yang telah dipelajari dan diketahui.
4. Jaga kesehatan
Tentu, gangguan kesehatan dapat mengganggu ingatan. Sebuah penelitian menunjukan bahwa dalam periode 25 tahun, pria penderita hipertensi akan kehilangan kemampuan kognitif hingga dua kali lipat dibandingkan pria bertekanan darah normal. Penelitian juga menunjukkan bahwa pada usia 70-an, seseorang tidak akan mudah mengalami penurunan kemampuan kognitif jika mereka tetap aktif secara fisik.
5. Tantanglah diri sendiri
Otak memproduksi senyawa kimia neurotransmitter yang membawa pesan antar-sel yang terlibat dalam ingatan. Ketersediaan neurotransmitter ini akan meningkat apabila otak sering digunakan untuk menyelesaikan tantangan yang menuntut pemecahan masalah.
6. Cukup tidur
Kurang tidur dapat mengurangi kemampuan seseorang untuk mengingat informasi yang kompleks. Penelitian di Universitas de Lille, Prancis, mengindikasikan bahwa otak memerlukan tidur untuk mempertahankan kemampuan mengingat informasi yang kompleks.
7. Makan secukupnya, kurangi lemak, perbanyak minum
Pilih makanan yang rendah lemak dan rendah kalori, serta memperbanyak minum air putih. Air putih dapat membantu pencernaan dan pernapasan, meningkatkan kapasitas pembawaan oksigen dalam darah, serta mempertahankan kesehatan sel.
8. Libatkan emosi
Pasalnya, peningkatan ingatan tentang suatu kejadian terkait erat dengan peningkatan emosi. Dan pengalaman yang melibatkan emosi akan lebih mudah diingat daripada pengalaman biasa.
9. Kembangkan ketajaman indera
Cobalah praktikkan keterampilan pengamatan dan belajar memperhatikan sesuatu dengan menggunakan seluruh indera kita. Jika ingin mengingat sesuatu, berhentilah sejenak, perhatikan dan catat apa yang ingin kita lihat.
10. Kembangkan sikap mental positif
Gantilah setiap sikap mental negatif atau kritik terhadap diri sendiri menjadi sikap yang positif, karena hal itu akan menimbulkan rasa percaya diri yang berpengaruh positif terhadap daya ingat.
11. Olahraga teratur
Selain meningkatkan kekuatan fisik, olahraga juga dapat membantu fungsi ingatan kita dengan menjamin suplai oksigen dan darah ke otak. Olahraga juga menstimulus endorfin, yaitu neurotransmitter yang terkait dengan perasaan senang, yang dapat meningkatkan keceriaan dan menjadi pemicu untuk pembelajaran dan ingatan.
12. Istirahat cukup
Yang tak kalah penting adalah istirahat cukup. Supaya fungsi otak bisa maksimal, otak membutuhkan istirahat untuk mengendapkan dan mengkonsolidasikan ingatan. Istirahat yang dibutuhkan otak bervariasi, tergantung pada kerumitan dan kebaruan informasi, serta pengalaman orang yang bersangkutan. Cara yang baik adalah memberi waktu istirahat otak 3 hingga 10 menit setelah otak beraktivitas selama 10 hingga 50 menit.
Sumber: www.tabloidnova.com
Senin, 02 Agustus 2010
10 Kiat Menjadi Sahabat Yang Baik
1. Bersikaplah terbuka. Keterbukaan tidak saja akan membuat sahabat Anda lebih mengenal Anda , tetapi Anda juga akan lebih mengenal diri sendiri.Ungkapkanlah perasaan2 , keinginan dan harapan-harapan Anda. Hanya dengan keterbukaan , Anda bisa bicara dari hati kehati, dan itu sangat penting bagi keintiman persahabatan.
2. Ciptakanlah keseimbangan antara memberi dan menerima . Anda tidak cukup hanya berperan sebagai pemberi tanpa menerima atau hanya sebagai penerima tanpa memberi. Hal ini menyangkut aspek yang luas , termasuk berbagi kegembiraan dan kesedihan.
3. Terimalah sahabat Anda sebagaimana adanya. Jadilah sahabatnya tanpa menuntutnya berubah sesuai keinginan Anda. Mungkin dia terlalu cerewet , agak cuek, sangat sensitif atau matre. Dia memang tidak sempurna dan mungkin sering melakukan hal-hal yang Anda tidak sukai.Namun jangan lupa, Andapun tidak luput dari kelemahan dan kekurangan
4. Bila sahabat Anda mempunyai sifat atau kebiasaan yang umumnya tidak disukai orang lain dan bisa menghambat pergaulannya , ingatkanlah dia pada waktu yang tepat. Barangkali selama ini dia tidak menyadari atau belum pernah ada seorangpun yang mengkritiknya . Kalau diperlukan , berilah saran dan biarkan dia berubah sedikit demi sedikit. Supaya fair , boleh juga Anda memintanya mengkritik Anda.
5. Bermurahhatilah. Ulurkanlah tangan ketika ia memerlukan bantuan, hiburlah ketika dia sedang sedih , dengarkanlah ketika dia mencurahkan isi hatinya, temanilah ketika dia mengalami masa-masa sulit, doronglah semangatnya dll.
6.Berikanlah perhatian. Meskipun ia tampak tidak membutuhkannya , namun dia akan senang menerimanya. Jangan melupakan hari-hari istimewanya, bawakan oleh-oleh ketika Anda Pulang dari kota, pujilah potongan rambutnya yg bagus, tanyakan khabar keluarganya, dsb.
7. Bersikaplah penuh toleransi . Tidak ada masalah bila Anda berbeda dengan sahabat Anda, baik agama, suku, prinsip atau kebiasaan. Semua itu bisa memperkaya suatu persahabatan bila kedua belah pihak mau saling mengahargai. Dan semakin baik toleransi Anda, maka akan semakin matang kemampuan Anda bersosialisasi.
8. Hargailah sahabat Anda sebagai seorang pribadi yang punya harga diri. Meskipun hubungan sudah sangat akrab , dia masih bisa tersingung dengan sikap dan ucapan Anda. Hatinya bisa terluka bila dihina, dikecam atau dipermalukan, meskipun dalam konteks bercanda.
9. Hormatilah privasi sahabat Anda . Bila dia menceritakan sesuatu rahasia , jangan membocorkannya karena itu berarti mengkhianati perasaannya. Ketika dia sedang ingin sendiri , jangan mengganggunya. Jangan tergoda untuk membuka buku hariannya, tas atau dompet miliknya tanpa ijin, dsb.
10. Bila terjadi konflik , selesaikanlah segera . Mulailah mengambil inisiatifuntuk menyelesaikannya. Jangan menunda-nunda apalagi bersikap seakan-akan tidak ada masalah. Meskipun konflik bisa mengganggu hubungan persahabatan , namun bila diselesaikan dengan baik bisa membuat hubungan menjadi lebih intim.
Orang yang mempunyai sahabat akan lebih sehat dan bahagia daripada mereka yang tidak punya seorangpun. Seorang sahabat lebih berharga dari emas atau permata. Kekayaan tidak bisa membelikan Anda seorang sahabat atau membayar kerugian akibat kehilangan seorang sahabat. –C.D. Prestice-
Sumber: www.planetmusic.4t.com
2. Ciptakanlah keseimbangan antara memberi dan menerima . Anda tidak cukup hanya berperan sebagai pemberi tanpa menerima atau hanya sebagai penerima tanpa memberi. Hal ini menyangkut aspek yang luas , termasuk berbagi kegembiraan dan kesedihan.
3. Terimalah sahabat Anda sebagaimana adanya. Jadilah sahabatnya tanpa menuntutnya berubah sesuai keinginan Anda. Mungkin dia terlalu cerewet , agak cuek, sangat sensitif atau matre. Dia memang tidak sempurna dan mungkin sering melakukan hal-hal yang Anda tidak sukai.Namun jangan lupa, Andapun tidak luput dari kelemahan dan kekurangan
4. Bila sahabat Anda mempunyai sifat atau kebiasaan yang umumnya tidak disukai orang lain dan bisa menghambat pergaulannya , ingatkanlah dia pada waktu yang tepat. Barangkali selama ini dia tidak menyadari atau belum pernah ada seorangpun yang mengkritiknya . Kalau diperlukan , berilah saran dan biarkan dia berubah sedikit demi sedikit. Supaya fair , boleh juga Anda memintanya mengkritik Anda.
5. Bermurahhatilah. Ulurkanlah tangan ketika ia memerlukan bantuan, hiburlah ketika dia sedang sedih , dengarkanlah ketika dia mencurahkan isi hatinya, temanilah ketika dia mengalami masa-masa sulit, doronglah semangatnya dll.
6.Berikanlah perhatian. Meskipun ia tampak tidak membutuhkannya , namun dia akan senang menerimanya. Jangan melupakan hari-hari istimewanya, bawakan oleh-oleh ketika Anda Pulang dari kota, pujilah potongan rambutnya yg bagus, tanyakan khabar keluarganya, dsb.
7. Bersikaplah penuh toleransi . Tidak ada masalah bila Anda berbeda dengan sahabat Anda, baik agama, suku, prinsip atau kebiasaan. Semua itu bisa memperkaya suatu persahabatan bila kedua belah pihak mau saling mengahargai. Dan semakin baik toleransi Anda, maka akan semakin matang kemampuan Anda bersosialisasi.
8. Hargailah sahabat Anda sebagai seorang pribadi yang punya harga diri. Meskipun hubungan sudah sangat akrab , dia masih bisa tersingung dengan sikap dan ucapan Anda. Hatinya bisa terluka bila dihina, dikecam atau dipermalukan, meskipun dalam konteks bercanda.
9. Hormatilah privasi sahabat Anda . Bila dia menceritakan sesuatu rahasia , jangan membocorkannya karena itu berarti mengkhianati perasaannya. Ketika dia sedang ingin sendiri , jangan mengganggunya. Jangan tergoda untuk membuka buku hariannya, tas atau dompet miliknya tanpa ijin, dsb.
10. Bila terjadi konflik , selesaikanlah segera . Mulailah mengambil inisiatifuntuk menyelesaikannya. Jangan menunda-nunda apalagi bersikap seakan-akan tidak ada masalah. Meskipun konflik bisa mengganggu hubungan persahabatan , namun bila diselesaikan dengan baik bisa membuat hubungan menjadi lebih intim.
Orang yang mempunyai sahabat akan lebih sehat dan bahagia daripada mereka yang tidak punya seorangpun. Seorang sahabat lebih berharga dari emas atau permata. Kekayaan tidak bisa membelikan Anda seorang sahabat atau membayar kerugian akibat kehilangan seorang sahabat. –C.D. Prestice-
Sumber: www.planetmusic.4t.com
10 ciri orang yang berpikir positif
Semua orang yang berusaha meningkatkan diri dan ilmu pengetahuannya pasti tahu bahwa hidup akan lebih mudah dijalani bila kita selalu berpikir positif. Tapi, bagaimana melatih diri supaya pikiran positiflah yang 'beredar' di kepala kita, tak banyak yang tahu.
Oleh karena itu, sebaiknya kita kenali saja dulu ciri-ciri orang yang berpikir positif dan mulai mencoba meniru jalan pikirannya.
1. Melihat masalah sebagai tantangan. Bandingkan dengan orang yang melihat masalah sebagai cobaan hidup yang terlalu berat dan bikin hidupnya jadi paling sengsara sedunia.
2. Menikmati hidupnya. Pemikiran positif akan membuat seseorang menerima keadaannya dengan besar hati, meski tak berarti ia tak berusaha untuk mencapai hidup yang lebih baik.
3. Pikiran terbuka untuk menerima saran dan ide. Karena dengan begitu, boleh jadi ada hal-hal baru yang akan membuat segala sesuatu lebih baik.
4. Mengenyahkan pikiran negatif segera setelah pikiran itu terlintas di benak. 'Memelihara' pikiran negatif lama-lama bisa diibaratkan membangunkan singa tidur. Sebetulnya tidak apa-apa, ternyata malah bisa menimbulkan masalah.
5. Mensyukuri apa yang dimilikinya. Dan bukannya berkeluh-kesah tentang apa-apa yang tidak dipunyainya
6. Tidak mendengarkan gosip yang tak menentu. Sudah pasti, gosip berkawan baik dengan pikiran negatif. Karena itu, mendengarkan omongan yang tak ada juntrungnya adalah perilaku yang dijauhi si pemikir positif.
7. Tidak bikin alasan, tapi langsung bikin tindakan. Pernah dengar pelesetan NATO (No Action, Talk Only), kan? Nah, mereka ini jelas bukan penganutnya.
8. Menggunakan bahasa positif. Maksudnya, kalimat-kalimat yang bernadakan optimisme, seperti "Masalah itu pasti akan terselesaikan," dan "Dia memang berbakat."
9. Menggunakan bahasa tubuh yang positif. Di antaranya adalah senyum, berjalan dengan langkah tegap, dan gerakan tangan yang ekspresif, atau anggukan. Mereka juga berbicara dengan intonasi yang bersahabat, antusias, dan 'hidup'.
10. Peduli pada citra diri. Itu sebabnya, mereka berusaha tampil baik. Bukan hanya di luar, tapi juga di dalam.
--sumber:www.astaga.com--
Oleh karena itu, sebaiknya kita kenali saja dulu ciri-ciri orang yang berpikir positif dan mulai mencoba meniru jalan pikirannya.
1. Melihat masalah sebagai tantangan. Bandingkan dengan orang yang melihat masalah sebagai cobaan hidup yang terlalu berat dan bikin hidupnya jadi paling sengsara sedunia.
2. Menikmati hidupnya. Pemikiran positif akan membuat seseorang menerima keadaannya dengan besar hati, meski tak berarti ia tak berusaha untuk mencapai hidup yang lebih baik.
3. Pikiran terbuka untuk menerima saran dan ide. Karena dengan begitu, boleh jadi ada hal-hal baru yang akan membuat segala sesuatu lebih baik.
4. Mengenyahkan pikiran negatif segera setelah pikiran itu terlintas di benak. 'Memelihara' pikiran negatif lama-lama bisa diibaratkan membangunkan singa tidur. Sebetulnya tidak apa-apa, ternyata malah bisa menimbulkan masalah.
5. Mensyukuri apa yang dimilikinya. Dan bukannya berkeluh-kesah tentang apa-apa yang tidak dipunyainya
6. Tidak mendengarkan gosip yang tak menentu. Sudah pasti, gosip berkawan baik dengan pikiran negatif. Karena itu, mendengarkan omongan yang tak ada juntrungnya adalah perilaku yang dijauhi si pemikir positif.
7. Tidak bikin alasan, tapi langsung bikin tindakan. Pernah dengar pelesetan NATO (No Action, Talk Only), kan? Nah, mereka ini jelas bukan penganutnya.
8. Menggunakan bahasa positif. Maksudnya, kalimat-kalimat yang bernadakan optimisme, seperti "Masalah itu pasti akan terselesaikan," dan "Dia memang berbakat."
9. Menggunakan bahasa tubuh yang positif. Di antaranya adalah senyum, berjalan dengan langkah tegap, dan gerakan tangan yang ekspresif, atau anggukan. Mereka juga berbicara dengan intonasi yang bersahabat, antusias, dan 'hidup'.
10. Peduli pada citra diri. Itu sebabnya, mereka berusaha tampil baik. Bukan hanya di luar, tapi juga di dalam.
--sumber:www.astaga.com--
ANTARA UJIAN DAN KESABARAN
Oleh Al Ustadz Jafar Salih
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (Qs. Al Ankabut: 3)
Kebanyakan orang mengira bahwa apabila ia beriman akan selamatlah kehidupannya dari berbagai bentuk cobaan dan ujian. Tidak akan datang kepadanya hal-hal yang menggoyahkan keimanannya. Padahal apabila kenyataannya adalah seperti yang mereka kira dan kondisinya seperti yang mereka sangka, tidak ada bedanya orang yang tulus beriman dengan yang sekedar pura-pura dan orang yang berada di atas kebenaran dengan para pengekor kebatilan. Oleh karena itulah sudah menjadi salah satu dari ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala terhadap orang-orang terdahulu, menurunkan cobaan dan ujian kepada mereka dengan kesenangan dan kesulitan, kesempitan dan kelapangan, senang dan susah, kekayaan dan kemiskinan dan yang lain sebagainya dari berbagai bentuk fitnah dan cobaan. Dan seorang hamba pada setiap kondisinya akan selalu membutuhkan kesabaran. Hal itu karena segala yang didapati hamba di dunia ini tidak lepas dari dua keadaan:
1. Perkara-perkara yang sesuai dengan seleranya. Berupa kesehatan, keselamatan, harta kedudukan dan yang lain sebagainya. Seorang hamba membutuhkan kesabaran dalam menghadapi kondisi-kondisi ini agar ia tidak tunduk kepadanya, tidak mabuk dengan kelezatannya dan tetap bisa menjaga hak-hak Allah Subhanahu Wa Ta'ala pada hartanya untuk ia infakkan dan pada badannya untuk mengerjakan kebaikan.
2. Perkara-perkara yang bertentangan dengan seleranya. Dalam hal ini ada tiga macam:
Yang pertama: Macam-macam ketaatan. Seorang hamba membutuhkan kesabaran untuk mengerjakan ketaatan-ketaatan pada tiga keadaan:
Sebelum memulainya yaitu dengan cara meluruskan niat, ikhlas dan bertahan untuk tidak riya’.
Ketika pelaksanaannya, yaitu bertahan untuk tidak dilalaikan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala pada saat-saat pelaksanaannya.
Dan setelah usai mengerjakannya, yaitu dengan bersabar untuk tidak menceritakan kebaikan yang sudah ia kerjakan sehingga ia jatuh ke dalam sikap riya’ dan sum’ah. Barangsiapa yang tidak sabar dari hal ini ia telah menggugurkan pahala amalannya seusai ia mengerjakannya.
Yang ke dua: Bersabar untuk tidak melaksanakan kemaksiatan. Alangkah butuhnya seorang hamba kepada kesabaran dalam keadaan ini. Apabila perbuatan tersebut termasuk kemaksiatan yang mudah terjadi seperti maksiat lisan, ghibah, dusta, berbantah-bantahan dan yang lain sebagainya maka bersabar padanya lebih berat.
Yang ke tiga: Bersabar pada hal-hal yang di luar kehendaknya. Seperti musibah, bencana apakah kematian orang yang dicintai, harta yang binasa, hilangnya kesehatan dan segala macam bala’ dan bencana lainnya. Sabar pada kondisi-kondisi ini merupakan derajat yang paling tinggi karena ikatannya yang erat dengan keyakinan si hamba kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْراً يُصِبْ مِنْهُ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan Allah timpakan kepadanya musibah”. HR Al Bukhari.
Dan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda menunjukkan tentang keutamaan sabar,
مَا يُصِيْبُ المُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حَزَنٍ وَلاَ أَذَى وَلاَ غَمٍّ حَتىَّ الشَّوْكَة يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang mukmin ditimpa kesusahan atau kesulitan, kesedihan atau kegundahan, dan tidak pula gangguan dan penyakit sampai duri yang menusuknya kecuali Allah Subhanahu Wa Ta'ala hapuskan dengannya dosa-dosanya”. Muttafaqun ‘Alaihi dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu.
Dan di dalam hadits yang lain,
لاَ يَزَالُ البَلاَءُ بِالمُؤْمِنِ أَوْ المُؤْمِنَةِ فِيْ جَسَدِهِ وَفِي مَالِهِ وَفِي وَلَدِهِ حَتىَّ يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ
“Tiada henti-hentinya musibah dan bencana menimpa seorang mukmin laki-laki atau mukmin perempuan pada dirinya atau hartanya atau anaknya sampai dia bertemu dengan Allah dan tidak membawa setitik pun dosa”. HR At-Tirmidzi
Dan di dalam hadits Sa’d bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata, “Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling besar cobaannya? Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab,
الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الصَّالِحُونَ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ مِنَ النَّاسِ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلىَ حَسَبِ دِيْنِهِ فَإِنْ كَانَ فِيْ دِيْنِهِ صَلاَبَةٌ زِيْدَ فِيْ بَلاَئِهِ وَإِنْ كَانَ فِيْ دِيْنِهِ رِقَّةٌ خُفِّفَ عَنْهُ، وَمَا يَزَالُ البَلاَءُ بِالعَبْدِ حَتىَ يَمْشِيْ عَلىَ الأَرْضِ وَلَيْسَ عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ
“Para nabi kemudian orang-orang shalih kemudian yang setelahnya dan setelahnya dari keumuman manusia. Seseorang diberi cobaan sesuai kadar keimanannya, apabila keimanannya kuat ditambah bala’ kepadanya dan apabila keimanannya lemah diringankan cobaannya. Dan tiada hentinya bala’ menimpa seorang hamba sampai ia berjalan di muka bumi dan tidak memiliki dosa”.
Kemudian penting diketahui bahwa sebagaimana Islam mengajak dan menyeru kepada kesabaran, Islam juga menunjukkan kepada adab-adab dalam menjalani kesabaran, di antaranya:
1. Bersabar pada momentum yang pertama. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُوْلَى
“Sesungguhnya kesabaran yang terpuji adalah sabar pada momentum yang pertama”. Muttafaqun ‘Alaihi dari Anas bin Malik Ra.
2. Istirja’ yaitu mengucapkan “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun” ketika musibah menimpanya.
3. Menahan diri dari tindakan kelewat batas, seperti menampar pipi, menjambak rambut atau yang lainnya dari perbuatan-perbuatan yang menampakkan kedongkolan dan sikap tidak menerima.
Dan di antara adab yang indah dalam menjalani kesabaran: tidak menampakkan kepada orang lain bahwa dirinya sedang mendapatkan musibah, seperti yang dilakukan shahabat wanita yang mulia Ummu Sulaim Radhiyallahu ‘Anha, ketika Allah Subhanahu Wa Ta'ala timpakan kepadanya musibah dengan kematian anaknya.
Bahwa suatu hari wafatlah anak laki-laki dari Ummu Sulaim Radhiyallahu ‘Anha dan ketika itu suaminya Abu Thalhah Radhiyallahu ‘Anhu sedang tidak ada di rumah. Mengetahui sang suami segera pulang Ummu Sulaim Radhiyallahu ‘Anha pun berdandan lebih cantik dari biasanya dan menyiapkan makanan dan melayani sang suami seperti tidak terjadi sesuatu di rumah itu. Selesai ia menjamu dan melayani suaminya, Ummu Sulaim Radhiyallahu ‘Anha berkata kepada suaminya, “Apa pendapatmu apabila seseorang memberikan kepada kita suatu pinjaman kemudian dia memintanya kembali bolehkan kita menolak mengembalikannya? Sang suami menjawab, “Tentu tidak”. Ummu Sulaim Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Anak kita sudah tiada dan harapkanlah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala pahala”. HR Muslim
Begitu banyak kisah dari salafus shalih yang bisa dijadikan tauladan bagi kita dalam hal ini. Di antaranya bahwa suatu hari wafatlah seorang anak dari Mutharrif. Lantas Mutharrif keluar rumah dengan pakaian yang paling indah dan wangi. Dan orang-orang pun mengingkari perbuatannya seraya berkata, “Anakmu Abdullah wafat dan kamu keluar rumah dengan pakaian indah dan wangi seperti ini?!” Mutharrif berkata, “Apa aku harus tenggelam dalam kesedihan padahal Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menjanjikan tiga keberuntungan kepadaku dan setiap keberuntungan itu lebih aku cintai dari dunia dan segala isinya”. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Qs. Al Baqarah: 155-57)
Tiga keberuntungan itu adalah: “mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya dan mereka itulah orang-orang yang mendapati petunjuk”
Demikianlah walaupun musibah sesuai tabiatnya adalah menyakitkan akan tetapi para salaf melihatnya sebagai kesempatan untuk menggapai pahala dan keridhaan. Wallahu A’lam. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
إِنَّ عَظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْماً اِبْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِضَى، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُخْطُ
“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya cobaan, dan sesungguhnya apabila Allah cinta kepada suatu kaum Allah timpakan kepadanya cobaan, barangsiapa yang ridha dia akan mendapatkan keridha’an dan barangsiapa yang benci dia akan mendapati kebencian”. HR At-Tirmidzi dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu.
Kemudian di antara faktor yang sangat membantu meringankan bala’ dan bencana tatkala datang menimpa adalah meningkatkan kesadaran dan keimanan terhadap takdir. Bahwa segala sesuatu sudah Allah Subhanahu Wa Ta'ala takdirkan baik atau buruk. Allah Swt berfiman di dalam Al Qur’an,
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (dengan takdir)”. (Qs. 54:49)
Dan yang dimaksud dengan beriman dengan takdir adalah, beriman bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengetahui segala sesuatu yang ada dan terjadi di alam semesta ini, di langit maupun di bumi, dan bahwasanya semuanya itu ada dan terjadi dengan kehendak-Nya, sebelum Dia menciptakan makhluk-makhluk-Nya.
Di dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash Ra, ia berkata, “Saya mendengar Nabi Saw bersabda,
كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Allah Swt telah menulis takdir seluruh makhluk-Nya lima puluh ribu tahun sebelum ia menciptakan langit dan bumi”.
Apabila yang menimpanya berupa musibah, dengan keimanannya kepada takdir akan semakin kuatlah kesabarannya. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
“Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (Qs. 64:11)
Dan Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga berfirman,
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Luhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (Qs. 57:22)
Dan apabila kebaikan yang ia dapat ia tidak menjadi sombong, karena ia tahu bahwa semuanya itu didapat dengan kehendak Allah Subhanahu Wa Ta'ala semata,
“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (Qs. 57:23)
Dan diantara faidah beriman kepada takdir, seorang hamba akan kuat tawakkalnya, karena tidak ada satu manfaat maupun kemudharatan yang menimpa seorang hamba kecuali hanya terjadi dengan kehendak Allah Swt. Dan tidak satupun dari perkara di langit maupun di bumi yang keluar dari takdirnya Allah Swt. Rasulullah Saw bersabda,
“Dan ketahuilah bahwa seandainya ummat berkumpul untuk memberi kepadamu suatu manfaat sesungguhnya mereka tidak akan mampu kecuali dengan apa yang telah Allah Swt tuliskan sebagai bagianmu. Dan apabila ummat berkumpul untuk memudharatkanmu dengan sesuatu sungguh mereka tidak mampu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan menimpamu” HR Tirmidzi dari Ibnu Abbas Ra.
Dan dalam riwayat yang lain,
وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لمَ ْيَكُنْ لِيُصِيْبَكَ وَمَا أَصَابَكَ لمَ ْيَكُنْ لِيُخْطِئَكَ
“Dan ketahuilah bahwa apa saja yang luput darimu tidak akan menimpamu dan apa saja yang bakal menimpamu tidak akan lput darimu”.
Wallahua’lam bis Shawaab.
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (Qs. Al Ankabut: 3)
Kebanyakan orang mengira bahwa apabila ia beriman akan selamatlah kehidupannya dari berbagai bentuk cobaan dan ujian. Tidak akan datang kepadanya hal-hal yang menggoyahkan keimanannya. Padahal apabila kenyataannya adalah seperti yang mereka kira dan kondisinya seperti yang mereka sangka, tidak ada bedanya orang yang tulus beriman dengan yang sekedar pura-pura dan orang yang berada di atas kebenaran dengan para pengekor kebatilan. Oleh karena itulah sudah menjadi salah satu dari ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala terhadap orang-orang terdahulu, menurunkan cobaan dan ujian kepada mereka dengan kesenangan dan kesulitan, kesempitan dan kelapangan, senang dan susah, kekayaan dan kemiskinan dan yang lain sebagainya dari berbagai bentuk fitnah dan cobaan. Dan seorang hamba pada setiap kondisinya akan selalu membutuhkan kesabaran. Hal itu karena segala yang didapati hamba di dunia ini tidak lepas dari dua keadaan:
1. Perkara-perkara yang sesuai dengan seleranya. Berupa kesehatan, keselamatan, harta kedudukan dan yang lain sebagainya. Seorang hamba membutuhkan kesabaran dalam menghadapi kondisi-kondisi ini agar ia tidak tunduk kepadanya, tidak mabuk dengan kelezatannya dan tetap bisa menjaga hak-hak Allah Subhanahu Wa Ta'ala pada hartanya untuk ia infakkan dan pada badannya untuk mengerjakan kebaikan.
2. Perkara-perkara yang bertentangan dengan seleranya. Dalam hal ini ada tiga macam:
Yang pertama: Macam-macam ketaatan. Seorang hamba membutuhkan kesabaran untuk mengerjakan ketaatan-ketaatan pada tiga keadaan:
Sebelum memulainya yaitu dengan cara meluruskan niat, ikhlas dan bertahan untuk tidak riya’.
Ketika pelaksanaannya, yaitu bertahan untuk tidak dilalaikan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala pada saat-saat pelaksanaannya.
Dan setelah usai mengerjakannya, yaitu dengan bersabar untuk tidak menceritakan kebaikan yang sudah ia kerjakan sehingga ia jatuh ke dalam sikap riya’ dan sum’ah. Barangsiapa yang tidak sabar dari hal ini ia telah menggugurkan pahala amalannya seusai ia mengerjakannya.
Yang ke dua: Bersabar untuk tidak melaksanakan kemaksiatan. Alangkah butuhnya seorang hamba kepada kesabaran dalam keadaan ini. Apabila perbuatan tersebut termasuk kemaksiatan yang mudah terjadi seperti maksiat lisan, ghibah, dusta, berbantah-bantahan dan yang lain sebagainya maka bersabar padanya lebih berat.
Yang ke tiga: Bersabar pada hal-hal yang di luar kehendaknya. Seperti musibah, bencana apakah kematian orang yang dicintai, harta yang binasa, hilangnya kesehatan dan segala macam bala’ dan bencana lainnya. Sabar pada kondisi-kondisi ini merupakan derajat yang paling tinggi karena ikatannya yang erat dengan keyakinan si hamba kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْراً يُصِبْ مِنْهُ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan Allah timpakan kepadanya musibah”. HR Al Bukhari.
Dan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda menunjukkan tentang keutamaan sabar,
مَا يُصِيْبُ المُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حَزَنٍ وَلاَ أَذَى وَلاَ غَمٍّ حَتىَّ الشَّوْكَة يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang mukmin ditimpa kesusahan atau kesulitan, kesedihan atau kegundahan, dan tidak pula gangguan dan penyakit sampai duri yang menusuknya kecuali Allah Subhanahu Wa Ta'ala hapuskan dengannya dosa-dosanya”. Muttafaqun ‘Alaihi dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu.
Dan di dalam hadits yang lain,
لاَ يَزَالُ البَلاَءُ بِالمُؤْمِنِ أَوْ المُؤْمِنَةِ فِيْ جَسَدِهِ وَفِي مَالِهِ وَفِي وَلَدِهِ حَتىَّ يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ
“Tiada henti-hentinya musibah dan bencana menimpa seorang mukmin laki-laki atau mukmin perempuan pada dirinya atau hartanya atau anaknya sampai dia bertemu dengan Allah dan tidak membawa setitik pun dosa”. HR At-Tirmidzi
Dan di dalam hadits Sa’d bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata, “Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling besar cobaannya? Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab,
الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الصَّالِحُونَ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ مِنَ النَّاسِ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلىَ حَسَبِ دِيْنِهِ فَإِنْ كَانَ فِيْ دِيْنِهِ صَلاَبَةٌ زِيْدَ فِيْ بَلاَئِهِ وَإِنْ كَانَ فِيْ دِيْنِهِ رِقَّةٌ خُفِّفَ عَنْهُ، وَمَا يَزَالُ البَلاَءُ بِالعَبْدِ حَتىَ يَمْشِيْ عَلىَ الأَرْضِ وَلَيْسَ عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ
“Para nabi kemudian orang-orang shalih kemudian yang setelahnya dan setelahnya dari keumuman manusia. Seseorang diberi cobaan sesuai kadar keimanannya, apabila keimanannya kuat ditambah bala’ kepadanya dan apabila keimanannya lemah diringankan cobaannya. Dan tiada hentinya bala’ menimpa seorang hamba sampai ia berjalan di muka bumi dan tidak memiliki dosa”.
Kemudian penting diketahui bahwa sebagaimana Islam mengajak dan menyeru kepada kesabaran, Islam juga menunjukkan kepada adab-adab dalam menjalani kesabaran, di antaranya:
1. Bersabar pada momentum yang pertama. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُوْلَى
“Sesungguhnya kesabaran yang terpuji adalah sabar pada momentum yang pertama”. Muttafaqun ‘Alaihi dari Anas bin Malik Ra.
2. Istirja’ yaitu mengucapkan “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun” ketika musibah menimpanya.
3. Menahan diri dari tindakan kelewat batas, seperti menampar pipi, menjambak rambut atau yang lainnya dari perbuatan-perbuatan yang menampakkan kedongkolan dan sikap tidak menerima.
Dan di antara adab yang indah dalam menjalani kesabaran: tidak menampakkan kepada orang lain bahwa dirinya sedang mendapatkan musibah, seperti yang dilakukan shahabat wanita yang mulia Ummu Sulaim Radhiyallahu ‘Anha, ketika Allah Subhanahu Wa Ta'ala timpakan kepadanya musibah dengan kematian anaknya.
Bahwa suatu hari wafatlah anak laki-laki dari Ummu Sulaim Radhiyallahu ‘Anha dan ketika itu suaminya Abu Thalhah Radhiyallahu ‘Anhu sedang tidak ada di rumah. Mengetahui sang suami segera pulang Ummu Sulaim Radhiyallahu ‘Anha pun berdandan lebih cantik dari biasanya dan menyiapkan makanan dan melayani sang suami seperti tidak terjadi sesuatu di rumah itu. Selesai ia menjamu dan melayani suaminya, Ummu Sulaim Radhiyallahu ‘Anha berkata kepada suaminya, “Apa pendapatmu apabila seseorang memberikan kepada kita suatu pinjaman kemudian dia memintanya kembali bolehkan kita menolak mengembalikannya? Sang suami menjawab, “Tentu tidak”. Ummu Sulaim Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Anak kita sudah tiada dan harapkanlah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala pahala”. HR Muslim
Begitu banyak kisah dari salafus shalih yang bisa dijadikan tauladan bagi kita dalam hal ini. Di antaranya bahwa suatu hari wafatlah seorang anak dari Mutharrif. Lantas Mutharrif keluar rumah dengan pakaian yang paling indah dan wangi. Dan orang-orang pun mengingkari perbuatannya seraya berkata, “Anakmu Abdullah wafat dan kamu keluar rumah dengan pakaian indah dan wangi seperti ini?!” Mutharrif berkata, “Apa aku harus tenggelam dalam kesedihan padahal Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menjanjikan tiga keberuntungan kepadaku dan setiap keberuntungan itu lebih aku cintai dari dunia dan segala isinya”. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Qs. Al Baqarah: 155-57)
Tiga keberuntungan itu adalah: “mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya dan mereka itulah orang-orang yang mendapati petunjuk”
Demikianlah walaupun musibah sesuai tabiatnya adalah menyakitkan akan tetapi para salaf melihatnya sebagai kesempatan untuk menggapai pahala dan keridhaan. Wallahu A’lam. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
إِنَّ عَظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْماً اِبْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِضَى، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُخْطُ
“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya cobaan, dan sesungguhnya apabila Allah cinta kepada suatu kaum Allah timpakan kepadanya cobaan, barangsiapa yang ridha dia akan mendapatkan keridha’an dan barangsiapa yang benci dia akan mendapati kebencian”. HR At-Tirmidzi dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu.
Kemudian di antara faktor yang sangat membantu meringankan bala’ dan bencana tatkala datang menimpa adalah meningkatkan kesadaran dan keimanan terhadap takdir. Bahwa segala sesuatu sudah Allah Subhanahu Wa Ta'ala takdirkan baik atau buruk. Allah Swt berfiman di dalam Al Qur’an,
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (dengan takdir)”. (Qs. 54:49)
Dan yang dimaksud dengan beriman dengan takdir adalah, beriman bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengetahui segala sesuatu yang ada dan terjadi di alam semesta ini, di langit maupun di bumi, dan bahwasanya semuanya itu ada dan terjadi dengan kehendak-Nya, sebelum Dia menciptakan makhluk-makhluk-Nya.
Di dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash Ra, ia berkata, “Saya mendengar Nabi Saw bersabda,
كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Allah Swt telah menulis takdir seluruh makhluk-Nya lima puluh ribu tahun sebelum ia menciptakan langit dan bumi”.
Apabila yang menimpanya berupa musibah, dengan keimanannya kepada takdir akan semakin kuatlah kesabarannya. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
“Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (Qs. 64:11)
Dan Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga berfirman,
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Luhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (Qs. 57:22)
Dan apabila kebaikan yang ia dapat ia tidak menjadi sombong, karena ia tahu bahwa semuanya itu didapat dengan kehendak Allah Subhanahu Wa Ta'ala semata,
“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (Qs. 57:23)
Dan diantara faidah beriman kepada takdir, seorang hamba akan kuat tawakkalnya, karena tidak ada satu manfaat maupun kemudharatan yang menimpa seorang hamba kecuali hanya terjadi dengan kehendak Allah Swt. Dan tidak satupun dari perkara di langit maupun di bumi yang keluar dari takdirnya Allah Swt. Rasulullah Saw bersabda,
“Dan ketahuilah bahwa seandainya ummat berkumpul untuk memberi kepadamu suatu manfaat sesungguhnya mereka tidak akan mampu kecuali dengan apa yang telah Allah Swt tuliskan sebagai bagianmu. Dan apabila ummat berkumpul untuk memudharatkanmu dengan sesuatu sungguh mereka tidak mampu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan menimpamu” HR Tirmidzi dari Ibnu Abbas Ra.
Dan dalam riwayat yang lain,
وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لمَ ْيَكُنْ لِيُصِيْبَكَ وَمَا أَصَابَكَ لمَ ْيَكُنْ لِيُخْطِئَكَ
“Dan ketahuilah bahwa apa saja yang luput darimu tidak akan menimpamu dan apa saja yang bakal menimpamu tidak akan lput darimu”.
Wallahua’lam bis Shawaab.
Raih Sukses Lewat Imajinasi
Menurut Cypert, orang yang tidak punya imajinasi seringkali mengalami hidup yang monoton. Ia selalu melewati jalur hidup yang itu-itu saja tanpa variasi berarti. Orang yang 'miskin' imajinasi tidak pernah berpikir untuk mencoba jalan lain ataupun berspekulasi melewati jalan yang baru sama sekali. Akibatnya, berkembang perasaan pesimis dan apatis terhadap tujuan hidup. Akhirnya jalan menuju sukses pun semakin buntu.
So, jika ingin sukses atau katakanlah ingin berhasil di bidang Anda, jangan ragu untuk berimajinasi. Tentu saja imajinasi yang masih relevan dan masuk akal. Maksudnya, sukses yang Anda imajinasikan adalah sukses yang berkaitan dengan kemampuan Anda. Misalnya, jika Anda seorang penulis pemula, imajinasikan bahwa suatu saat Anda akan menjadi penulis terkenal dan handal.
Jika Anda hobi menyanyi bayangkanlah bahwa Anda akan menjadi seorang penyanyi. Nggak perlu membayangkan terlalu jauh akan menjadi penyanyi internasional, tetapi untuk sementara bayangkanlah Anda menjadi penyanyi yang dikenal di negeri sendiri. Jika Anda wiraswastawan, bermimpilah bahwa suatu saat Anda akan menjadi pemilik suatu perusahaan.
"Imajinasi yang Anda kembangkan merupakan pemicu yang mendorong Anda untuk bergerak melakukan sesuatu. Anda akan punya kekuatan untuk mencapai imajinasi. Walau Anda tidak langsung dapat meraihnya, tetapi melalui usaha yang bertahap suatu saat imajinasi, mimpi, dan fantasi Anda akan menjadi kenyataan," ujar Cypert.
Memang imajinasi dan mimpi tidak pernah bisa terwujud tanpa usaha apapun. Jika Anda hanya bisa berharap sambil mengkhayalkan kesuksesan, Anda tidak akan pernah menggenggam sukses itu. Paling tidak, dengan imajinasi yang Anda miliki, Anda harus menyusun langkah dan rencana untuk mencapai tujuan Anda. Karena itu, seorang yang penuh imajinasi pun harus jeli melihat peluang.
Jika Anda bisa menggabungkan imajinasi, harapan, rencana, peluang, dan kerja keras, imajinasi Anda akan berubah menjadi sukses yang paling indah dalam hidup ini.
Memang, hasilnya tidak akan Anda rasakan dalam waktu singkat. Bisa jadi Anda baru merasakan hasilnya selama setahun, tiga tahun, atau bahkan bertahun-tahun. Ini bukan masalah, yang penting Anda tetap memiliki semangat untuk mendekati mimpi Anda. Selamat berimajinasi dan meraih mimpi-mimpi Anda...!
Sumber: www.astaga.com
So, jika ingin sukses atau katakanlah ingin berhasil di bidang Anda, jangan ragu untuk berimajinasi. Tentu saja imajinasi yang masih relevan dan masuk akal. Maksudnya, sukses yang Anda imajinasikan adalah sukses yang berkaitan dengan kemampuan Anda. Misalnya, jika Anda seorang penulis pemula, imajinasikan bahwa suatu saat Anda akan menjadi penulis terkenal dan handal.
Jika Anda hobi menyanyi bayangkanlah bahwa Anda akan menjadi seorang penyanyi. Nggak perlu membayangkan terlalu jauh akan menjadi penyanyi internasional, tetapi untuk sementara bayangkanlah Anda menjadi penyanyi yang dikenal di negeri sendiri. Jika Anda wiraswastawan, bermimpilah bahwa suatu saat Anda akan menjadi pemilik suatu perusahaan.
"Imajinasi yang Anda kembangkan merupakan pemicu yang mendorong Anda untuk bergerak melakukan sesuatu. Anda akan punya kekuatan untuk mencapai imajinasi. Walau Anda tidak langsung dapat meraihnya, tetapi melalui usaha yang bertahap suatu saat imajinasi, mimpi, dan fantasi Anda akan menjadi kenyataan," ujar Cypert.
Memang imajinasi dan mimpi tidak pernah bisa terwujud tanpa usaha apapun. Jika Anda hanya bisa berharap sambil mengkhayalkan kesuksesan, Anda tidak akan pernah menggenggam sukses itu. Paling tidak, dengan imajinasi yang Anda miliki, Anda harus menyusun langkah dan rencana untuk mencapai tujuan Anda. Karena itu, seorang yang penuh imajinasi pun harus jeli melihat peluang.
Jika Anda bisa menggabungkan imajinasi, harapan, rencana, peluang, dan kerja keras, imajinasi Anda akan berubah menjadi sukses yang paling indah dalam hidup ini.
Memang, hasilnya tidak akan Anda rasakan dalam waktu singkat. Bisa jadi Anda baru merasakan hasilnya selama setahun, tiga tahun, atau bahkan bertahun-tahun. Ini bukan masalah, yang penting Anda tetap memiliki semangat untuk mendekati mimpi Anda. Selamat berimajinasi dan meraih mimpi-mimpi Anda...!
Sumber: www.astaga.com
Atasi Rasa Takut Gagal Anda
Kegagalan sebetulnya merupakan hal yang manusiawi, karena tidak semua manusia bisa mencapai keberhasilan. Berdasarkan pengalaman, banyak orang yang sangat trauma pada kegagalan, sehingga tak jarang sampai menimbulkan stres dan depresi bahkan sampai menimbulkan gangguan jiwa. Pada beberapa kasus, ada beberapa orang yang takut gagal sebelum bertindak. Sikap ini jelas sangat tidak bagus untuk perkembangan mental seseorang.
Ironisnya, banyak manusia pintar yang akhirnya mengalami kegagalan hanya karena selalu dihinggapi ‘takut gagal’. Sebaliknya, tak jarang manusia yang otaknya biasa-biasa saja namun bisa meraih kesuksesan berkat keyakinan dan rasa percaya diri yang cukup tinggi.
Seorang ahli jiwa pernah mengatakan, di jaman yang semakin kompetitif ini, orang-orang yang mampu bertarung melawan jaman hanyalah orang-orang yang percaya diri, agresif, sedikit nekad, pandai bicara dibarengi dengan pengetahuan yang memadai, dan memiliki performance yang bagus. Sedangkan manusia yang pintar tapi tidak pandai mempresentasikan kepandaiannya, maaf saja, sulit sekali menggapai sukses. Lalu apakah Anda termasuk orang yang takut gagal dan sulit merefleksikan kepandaian Anda? Jika ya, Anda harus merubahnya dari sekarang! Jangan sia-siakan waktu yang berharga ini dengan berbagai macam ketakutan. Ikutilah saran berikut ini:
* Pertama, jangan takut gagal! Tidak takut gagal diasumsikan dengan percaya diri. Sikap ini merupakan modal dasar seseorang untuk menggapai sukses. Karena orang yang percaya diri dan tidak takut gagal adalah orang-orang yang menghargai kemampuannya. Sedangkan orang yang takut gagal dan tidak percaya diri hanyalah orang-orang pengecut yang selalu meragukan kemampuan dirinya. Percayalah jika Anda pede, orang akan tertarik memperhatikan Anda. Dan di saat orang tertarik pada Anda, inilah saatnya bagi Anda untuk unjuk kemampuan.
* Pacu semangat diri dengan mengisi hari-hari Anda dengan kegiatan yang berkualitas. Anda tak kan menghasilkan apa-apa dengan hanya bermenung diri. Jangan lupa, kembangkan pergaulan Anda seluas-luasnya. Ingat, dunia ini tak selebar daun kelor. Jika Anda hanya mengurung diri saja, orang tak akan tahu kalau Anda pandai.
* Jangan terlalu birokratif. Sikap ini hanya akan membuat Anda selalu merasa ragu dan terpentok berbagai macam peraturan. Bersikaplah lebih berani dan sedikit nekad. Karena di saat itu, biasanya muncul kekuatan dari alam bawah sadar yang membuat Anda berani mengeksploitasikan kemampuan.
* Dalam melakukan apapun, jangan mengandalkan kekuatan berpikir Anda semata. Padukan dengan inovasi dan kreatifitas Anda. Selain itu, jangan takut kritik! Mendengar dan menerima kritik merupakan salah satu cara agar Anda bisa mengkoreksi kekurangan Anda.
Bagaimana apakah Anda masih juga takut dengan kegagalan? Ingat, seandainya pun Anda gagal, Anda tak perlu meratapi dan menangisinya. Tapi sebaliknya, Anda harus menghadapi dan menjadikan kegagalan itu sebagai pengalaman berharga. Kemudian bangkitlah untuk menata hari esok yang lebih cerah, dibarengi dengan doa, tentu! [tri*]
Ironisnya, banyak manusia pintar yang akhirnya mengalami kegagalan hanya karena selalu dihinggapi ‘takut gagal’. Sebaliknya, tak jarang manusia yang otaknya biasa-biasa saja namun bisa meraih kesuksesan berkat keyakinan dan rasa percaya diri yang cukup tinggi.
Seorang ahli jiwa pernah mengatakan, di jaman yang semakin kompetitif ini, orang-orang yang mampu bertarung melawan jaman hanyalah orang-orang yang percaya diri, agresif, sedikit nekad, pandai bicara dibarengi dengan pengetahuan yang memadai, dan memiliki performance yang bagus. Sedangkan manusia yang pintar tapi tidak pandai mempresentasikan kepandaiannya, maaf saja, sulit sekali menggapai sukses. Lalu apakah Anda termasuk orang yang takut gagal dan sulit merefleksikan kepandaian Anda? Jika ya, Anda harus merubahnya dari sekarang! Jangan sia-siakan waktu yang berharga ini dengan berbagai macam ketakutan. Ikutilah saran berikut ini:
* Pertama, jangan takut gagal! Tidak takut gagal diasumsikan dengan percaya diri. Sikap ini merupakan modal dasar seseorang untuk menggapai sukses. Karena orang yang percaya diri dan tidak takut gagal adalah orang-orang yang menghargai kemampuannya. Sedangkan orang yang takut gagal dan tidak percaya diri hanyalah orang-orang pengecut yang selalu meragukan kemampuan dirinya. Percayalah jika Anda pede, orang akan tertarik memperhatikan Anda. Dan di saat orang tertarik pada Anda, inilah saatnya bagi Anda untuk unjuk kemampuan.
* Pacu semangat diri dengan mengisi hari-hari Anda dengan kegiatan yang berkualitas. Anda tak kan menghasilkan apa-apa dengan hanya bermenung diri. Jangan lupa, kembangkan pergaulan Anda seluas-luasnya. Ingat, dunia ini tak selebar daun kelor. Jika Anda hanya mengurung diri saja, orang tak akan tahu kalau Anda pandai.
* Jangan terlalu birokratif. Sikap ini hanya akan membuat Anda selalu merasa ragu dan terpentok berbagai macam peraturan. Bersikaplah lebih berani dan sedikit nekad. Karena di saat itu, biasanya muncul kekuatan dari alam bawah sadar yang membuat Anda berani mengeksploitasikan kemampuan.
* Dalam melakukan apapun, jangan mengandalkan kekuatan berpikir Anda semata. Padukan dengan inovasi dan kreatifitas Anda. Selain itu, jangan takut kritik! Mendengar dan menerima kritik merupakan salah satu cara agar Anda bisa mengkoreksi kekurangan Anda.
Bagaimana apakah Anda masih juga takut dengan kegagalan? Ingat, seandainya pun Anda gagal, Anda tak perlu meratapi dan menangisinya. Tapi sebaliknya, Anda harus menghadapi dan menjadikan kegagalan itu sebagai pengalaman berharga. Kemudian bangkitlah untuk menata hari esok yang lebih cerah, dibarengi dengan doa, tentu! [tri*]
Kamis, 29 Juli 2010
Catatan Terakhir

Aku tahu ketika aku menuliskan ini, engkau tengah
menikmati hari bahagiamu. Dan aku juga tahu salah satu orang yang tak pernah
engkau harapkan datang hadir di hari bahagiamu itu adalah aku,”
Terima kasih engkau”, terima kasih telah lupa dengan
diriku, pura-pura melupakanku bahwa di semesta pikiranmu pernah ada aku,
sekarang aku cuma bisa berkata kepadamu” semoga engkau bahagia dengan semua
itu.
Aku yang terlupakan.
engkau, lama tak ada
tulisan tentangmu.
Tak seperti dulu
dulu, hampir setiap
waktu, selalu ada kata untukmu.
Apa kabarmu sekarang?…
Ah basi ya? Biarlah, aku
hanya ingin mengulang kembali kebiasaan lamaku, sekedar mengalirkan metafor
basa-basi menyapamu, seperti orang ketemu, bertanya kabar meskipun tak mau tahu
dengan kabar yang ditanyakan itu,…ah basa-basi bagiku.
Tapi, kali ini agak lain
basa-basiku tidak hanya itu.
Coba dengarkanlah aku.
Tuhan, apakah sinyalmu
tidak cukup kuat menerima SMS yang telah aku kirimkan Kepadamu?
Ataukah, mungkin
jaringanmu sedang sibuk megurus pesan-pesan lain yang lebih penting dari
pesanku itu?
Tuhan apakah karena
hanya aku memakai kartu perdana murahan, dan handphone monophonik sehinggga
SMSku tak sampai Kepadamu?.
Ataukah nomor pusat
servis pesanku keliru sehingga salah sambung pesanku entah kemana?.
Tuhan, katanya servisMu
24 jam online tanpa henti, tapi mengapa SMSku tak juga Engkau Balas?.
Padahal aku juga sudah
kirimkan SMSku di saat diskon specialmu, yakni di sepertiga malam-Mu karena aku
yakin tak banyak orang yang menghubungi atau berkirim pesan kepada-Mu. Tapi
mengapa sampai detik ini menunggu tak juga Engkau balas SMSku, padahal aku
menunggu Tuhan.
Tuhan,apakah aku salah
kirim ke nomor yang lain?
Tapi kurasa benar,sebab
di ktab keabadian warisan nabi-Mu sudah kubaca benar itu nomor-Mu,Tuhan.
Tapi mengapa engkau tak
segera membalas SMSku Tuhan,padahal aku menunggu.
Kalau aku harus
menelepon,sayang aku tak punya cukup pulsa untuk itu. Dan seandainyapun ada aku
kuatir Engkau tak mau terima teleponku, karena Engkau tahu aku banyak salah dan
kilaf kepada-Mu.
Sekali-kali SMS aku dong
Tuhan. Aku akan sangat senang jika ada pesan khusus dari-MU. Aku akan
melonjak-lonjak girang dan tanpa lama ku balas ‘ Terima kasih Tuhan’ kontan.
Namun mengapa Tuhan tak
kunjung kau balas pesanku?
Padahal aku cuma ingin
tahu Tuhan,apakah benar kabar yang akau dengar itu, apakah benar ini hari
kebahagianya (untuk seseorang di jauh sana), namun mengapa tak ada
pemberitahuan dan undangan darinya.dan apakah benar orang yang tak pernah di
harapakan datang adalah ‘Aku”. Kalau memang iya Tuhan tolong sampaikan kataku
”Semoga dia bahagia”.
Ya sekedar basa-basi tapi punya arti
bagiku
Karena memang Tuhan tak
butuh dengan kata-kataku itu.
Namun engkau waktu?
Adakah Deja vu itu?
Engkau jangan terus maju
waktu,kembalikan aku ke masa lalu, yang indah itu.
Aku masih punya mimpi,
aku masih punya cinta yang sanggup mengetarkan seluruh urat syarafku, memeras
gelora air mataku. Kenangan itu….
Ya sebuah kenangan yang
kelak akan aku buka kembali pada episode masa depanku, yang jauh itu, bersama
kata yang tak pernah sanggup menggenggam bahasa jiwaku, tentang aku dan kamu.
Dan sekarang…, ya
sekarang aku hidup di ini waktu.
Menggores pena bersama
berjalannya sang waktu.
Dan dirimu…
Kalau aku punya hari
yang indah teryata dirimu punya yang lebih dariku..
tapi kenapa dirimu tak
beritahu aku..
Hhhmmm….aku tahu, dirimu
sengaja tak mengabariku karena engkau kuatir aku iri denganmu, iri dengan hari
bahagiamu, iri dengan hari indahmu he..he.. tapi sory ya, engkau keliru kalau
berpikir begitu.
Ya daripada salah dan
membuat muka merah,..ah…yang pasti engkau sengaja melupakanku,supaya ada
tulisan ini untukmu. Terima kasih engkau, telah membangunkan imajinasiku. Tapi
maaf ini bukan surat cinta yang sering orang tuliskan itu. Dan aku yakin engkau
juga punya kata itu.
Malam !….
aku ingin bertanya
kepadamu…
jangan hanya kelam dan
hitam kepadaku, diam membisu dalam keheninganmu.
Adakah cinta itu abadi?
Adakah persahabatan itu
sejati?
Adakah sebuah hukum alam
yang mampu mengubah cinta menjadi benci?
Pertanyaan-pertanyaan
itulah yang selalu tidak aku mengerti malam!.
Ok lah!…kalau engkau
juga tak tahu,aku juga tak akan memaksamu untuk menjawab itu.
Aku cuma ingin engkau
setia menemaniku, membiarkan aku termenung dengan khayalan kehiduypanku.di
bawah kerlip bintang-bintang di langit sayapmu.dan jangan pergi meninggalkank,
hingga datang mentari kan menjagaiku…
oh malam….kenapa
tiba-tiba aku bisa melihat diriku…. sedang apakah aku diriku… kenapa ada
pelaminan di situ… ya Tuhan benarkah yang aku lihat itu?…
mimpikah aku?…
sadarkah diriku?….
sungguhkah dengan yang
aku saksikan itu?…
akukah yang palsu atau
dia yang semu?….
tapi mengapa dengan
denagn kepura-puraanmu tak melihat diriku dan menyambut kedatanganku dengan
senyummu yang indah itu,”karenakah orang itu, yang sekarang duduk mesra
disampingmu itu?”…….,
lihatlah malam,….. aku
disini,saksikan aku,karena hanya engkau yang tahu dan peduli denganku,
“Air mata ini adalah air mata kebahagianku, bahagia
karena melihat dirimu bahagia, bahagia karena sekarang engkau telah menemukan
separuh yang hilang dari dirimu,yang terbaik dalam kehidupanmu”.
Katakan padanya malam,
”Aku juga turut
berbahagia,dan cuma bisa berkata,semoga engkau juga bahagia, baarakallahu laka
wa baaraka ‘alaika wa jama’a baina kuma fi khair”.
Padahal malam,kata-kata
itu aku ingin ucapkan sendiri di depannya sambil menjabat tangan orang yang ada
di dekatnya.karena aku tak mampu malam,tolong bilangkan itu padanya….
bahagia?….
apakah arti bahagia
itu?….
adakah bahagia itu
adalah air mata?….
ataukah mungkin pepatah
ini arti bahagia?…
Kebahagian adalah
menemukan seseorang untuk kau peluk saat kau menangis,berbagi perih bersamanya,
dan kesedihan adalahsaat kau tertawa sendirian”.
Tapi aku perih malam……
perih kesediahan….
perih karena dalam
kenyataannya tidak bisa melihat dia bahagia…
perih karena aku tak
pernah ia harap untuk hadir ikut merasakan dia bahagia.
Kenapa dia
begitu?…
adakah itu di
sengaja?..
tapi dia baik….
tak pantas ku menyalahkannya.
Tapi siapakah?…
takdirkah?…
ngak… takdir gak
salah.
Namun….
Hidup yang tak
pernah dipertanyakan adalah hidup yang tak pernah layak diteruskan.
Itulah guruku
Socrates yang pernah bilang….
dan me…..
Love or just hate
mebut pare me with your indefference,cintai aku atau sekalian benci aku, asal
jangan kau acuhkan diriku.
Toh…
Tak semua yang dapat di hitung, diperhitungkan, dan
tak semua yang dapat diperhitungkan dapat di hitung.
ah… apa lagi ini…
Namun begitulah cerita
hidup dan cintaku.
Langganan:
Postingan (Atom)